let us introducing ourself,in the firstly...........................
HELOO....my name is Elok Nurmasyah Putri ,you can call me just Elok :), I Was born in Cirebon on November12,1998 and i'm Aliando fans,nice to meet you ^.^
Hai, my name is Indah Choerunnisa, you can call me Indah :D, i was born in Cirebon on Oktober 11,1998 and my hobby is Drawing :) , nice to meet you ^.^
Hello guys, my name is Lina Karlina, my nick name is Lina :) , and I was born in Cirebon on Aprill 23,1997 and I like Travelling :*
Hai everybody, my name is Nida Nurshafa, my nick name is Nida :D , and I was born in Bandung on Febuary 24, 1998 and I like band NOAH (Ex. PETERPAN) and AGNES MONICA MULJOTO (AGNEZMO) ({}) (and i'm Friendly guys :p)
Hello, My name is Sunenti, you can call me just nenti :) , I was born in Indramayu on Jully 11,1998
Let's look at The History of Cirebon City
Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.
Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daer5ah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.
Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara.
Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.
Kemudian Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan mamakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan dengan
kerajaan Hindu Pajajaran.
Semenjak itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini.
Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.
RINGKASAN
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya.
Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan yaitu kereta Singa Barong. Kereta ini saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.
Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja.
Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh [[Pangeran Mas Mochammad Arifin II] (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Ia bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.
Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan berbagai macam hukuman terhadap setiap rakyat yang melanggar peraturan seperti hukuman cambuk. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Sedangkan di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar — sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya. Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.
Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.
Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.
saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman. Bangunan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu. Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambing dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Bangunan ini berasal dari budaya Hindu. Dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.
KERATON
KASEPUHAN yang terletak di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota
Cirebon merupakan keraton yang pertama sekali didirikan sekitar abad ke 13.
Sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon pada masa itu.
Sebagai
Keraton Kesultanan Cirebon yang pertama, Keraton Kasepuhan memiliki sejarah
yang paling panjang dibanding ketiga keraton lainnya. Keraton ini juga memiliki
wilayah kekeratonan yang terluas, wilayah kekeratonannya mencapai lebih dari 10
Ha. Keraton ini terletak di selatan alun-alun dengan Masjid Agung Sang Cipta
Rasa di sebelah barat alun-alun.
Pada masa
awal didirikannya yang pertama kali dibangun adalah bangunan Keraton Pakungwati
I. Keraton Pakungwati dibangun menghadap ke arah Laut Jawa dan membelakangi
Gunung Ciremai. Bangunan ini terdapat disebelah timur bangunan Keraton
Pakungwati II.
Banyak
sejarah penting yang tersimpan di dalam keraton ini, serta benda peninggalan
yang terdapat didalamnya seperti: sebuah tandu berbentuk makhluk berkepala
burung dan berbadan ikan. Hal ini melambangkan “Setinggi-tingginya seorang
pemimpin dalam kepemimpinannya tetap harus mampu melihat dan menyelami keadaan
setiap rakyat yang berada dibawahnya”.
Rentetan
perjalanan panjang dalam membangun sebuah pemerintahan pada masa itu. Keraton
Kasepuhan sebagai keraton yang pertama ada di Cirebon. Hal ini menunjukan
betapa besar peran serta pengaruh budaya Cirebon dalam membangun ekonomi pada
masa pemerintahan Kesultanan saat itu.
Keraton
Kasepuhan memang saat ini tidak lagi memegang dan menjalankan tampuk
pemerintahan di Cirebon
seperti pada masa Kesultanan. Namun sebagai peninggalan budaya, Keraton Kasepuhan memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam perjalanan panjangnya membangun budaya dan ekonomi Cirebon.
seperti pada masa Kesultanan. Namun sebagai peninggalan budaya, Keraton Kasepuhan memiliki arti dan peran yang sangat penting dalam perjalanan panjangnya membangun budaya dan ekonomi Cirebon.
Keraton Kanoman
Keraton
Kanoman merupakan pusat peradaban Kesultanan di Cirebon, yang
kemudian terpecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon.
Kebesaran
Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah orang
yang bertanggung Jawab menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga
berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau
Sunan Gunung Jati.
Sunan Gunung
Jati juga meninggalkan jejaknya yang hingga kini masih berdiri tegak, jejak itu
bernama Kraton Kanoman. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan
pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul
Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon
Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya
dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga
dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
Kompleks
Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektar ini berlokasi di belakang
pasar Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama raja Muhammad
Emiruddin berserta keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri
dari dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal
witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan
sepakbola.
Di keraton
ini masih terdapat barang barang Sunan Gunung Jati, seperti dua kereta bernama
Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum.
Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra
Mi’raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk
Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid
Nabi. Dan di bagian tengah Kraton terdapat komplek bangunan bangunan bernama
Siti Hinggil.
Hal yang
menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli
Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di
keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs
bersejarah di Cirebon. Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon
adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan
sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk
rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton
selalu ada masjid.
Menengok Koleksi Keraton Kanoman Cirebon
Keraton Kanoman,
disebut juga Kesultanan Kanoman, yang menjadi tujuan pertama di pagi hari pada
penggal awal Mei lalu ternyata terletak tersembunyi di balik keramaian pasar.
Memerlukan energi berlebih untuk mencapai tujuan sejak para penjual jambu biji
asal Desa Pagartoya yang menjajakan dagangan di depan Vihara Pancar
Keselamatan, menunjukkan arah menuju keraton. Maklum, kendaraan harus membelah
kerumunan penjual sayur-sayuran dan buah-buahan yang meluap hingga ke badan
jalan. Nyaris tak bisa jalan kalau tidak ada bantuan dari petugas parkir pasar.
Keraguan
menyergap ketika mulai memasuki kawasan keraton. Lengang, sepi. Di bagian luar,
bangunan-bangunan seperti pagar yang menjadi pembatas kawasan keraton, pintu
gerbang, hingga bangsal paseban, tampak tak terawat. Rerumputan tumbuh
meninggi di beberapa tempat di halaman.
Tak
terbayangkan tempat itu menyimpan sejarah panjang tentang kepahlawanan, juga
syiar Islam, jika tidak menatap baik-baik bangunan utama. Memang tidak sebesar
bangunan-bangunan di Keraton Yogyakarta, atau Surakarta, namun masih
memancarkan kharisma tersendiri. Pagi itu, di Bangsal Jinem, tempat yang dulu
acap dipakai petinggi keraton menerima tamu penting, sedang ada acara keluarga.
Rasa
penasaran menggiring langkah merambahi halamannya yang teduh. Memang tampak
keistimewaan jika mengamati lebih teliti bangunan-bangunan pagar maupun pintu
gerbangnya. Pagar tembok maupun gerbangnya berhiaskan piring-piring porselen
yang cantik. Porselin-porselen asli dari Negeri Tiongkok, kata Muhammad Rais
(70), Lurah Kesultanan Kanoman, pemandu tamu.
Daya tarik
utama Keraton Kanoman baru bisa dinikmati ketika memasuki museum yang terletak
di sisi kanan bangunan utama. Di bangunan yang tidak terlalu besar itu
tersimpan peninggalan-peninggalan keraton, mulai dari kereta kerajaan,
peralatan rumah tangga, hingga senjata kerajaan.
Pemberian
nama itu berkaitan dengan pahatan kayu di bagian depan yang menggambarkan
gabungan bentuk paksi (burung), naga, dan liman (gajah) memegang
senjata. Paduan bentuk itu melambangkan persatuan tiga unsur kekuatan di darat,
laut, udara, menyimbolkan keutuhan wilayah.
Keistimewaannya
terletak pada bagian sayap patung yang bisa membuka-menutup saat sedang
berjalan, juga bentuk rodanya yang berbeda dengan roda pedati biasa. Roda
kereta dibuat cekung ke dalam. Rais menjelaskan, konstruksi roda seperti itu
sangat berguna jika melewati jalanan berlumpur yang basah. Kotoran tidak akan
menciprat mengotori penumpangnya.
Kereta yang
lain adalah Jempana, kereta kebesaran untuk permaisuri dengan hiasan bermotif
batik Cirebon. Kereta berbahan kayu sawo itu juga dirancang dan dibuat atas
arahan Pangeran Losari pada tahun yang sama.
Nilai
kebesarannya langsung terbayangkan ketika Rais menceritakan kereta-kereta itu
dulunya ditarik enam ekor kuda. Dengan bangga pula ia menceritakan seorang
insinyur Eropa pernah secara khusus mempelajari konstruksi roda kereta-kereta
kesultanan itu.
Kereta-kereta
itu menempati bagian tengah ruangan. Bagian pinggir museum dipenuhi koleksi
yang lain. Di antaranya koleksi wayang golek papak, kursi pengantin, gamelan,
meja tulis lengkap dengan perlengkapan menulis daun lontar dan ijuk aren yang
berfungsi sebagai alat menulis, kotak-kotak termasuk kotak dari Mesir. Di salah
satu sudut, bisa dilihat koleksi senjata, mulai dari aneka pedang lokal dan
pedang Eropa, keris, senjata api, aneka perisai, dan meriam.
Hasil
penelusuran sejarah menyebutkan Keraton Kanoman adalah pusat peradaban
Kesultanan Cirebon, yang kemudian terpecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton
Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Keraton Kanoman masih
taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan
tradisi Grebeg Syawal, seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam
leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara.
Peninggalan-peninggalan
bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat
dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
Peninggalan sejarah kejayaan Islam masa lampau juga bisa ditemui di Tamansari
Gua Sunyaragi, yang menjadi penutup acara berkeliling Kota Cirebon.
Kompleks
bangunan yang didirikan pada 1852 di areal seluas 1,5 hektare itu, dulu
merupakan tempat peristirahatan dan tempat menyepi Sultan Kasepuhan dan
kerabatnya. Letaknya di Kelurahan Sunyaragi, 5 km sebelah barat pusat kota.
Banyak yang
bisa dilihat, banyak yang bisa dipelajari. Sayang, bahkan pada hari Minggu pun
peninggalan budaya leluhur itu sepi pengunjung.
